Kisah Ilmu Laduni Syekh Abdul Qodir Jailani

Kisah ini diungkap dalam kitab al-Fawāid al-Mukhtārah Lisāliki Ṭarīq al-Ākhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, seorang santri yang berguru kepada Habib Zain ibn Ibrahim ibn Smith di Hadlramaut, Tarim, Yaman.

Alkisah, suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani melihat kehadiran Rasulullah mendatanginya sebelum melaksanakan Shalat dzuhur. Seketika itu ia kaget bukan main dan tidak jadi melanjutkan shalat. Tak lama kemudian, Rasulullah bertanya;
 “Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara di hadapan orang banyak?”
“Wahai ayahku, aku ini tumbuh dan besar di tengah-tengah penduduk yang tidak pandai berbicara. Lantas bagaimana aku mau berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad yang pandai berbicara, ditambah lagi ulamanya banyak yang alim?” jawab Syekh Abdul Qadir dengan rasa malu.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rasulullah langsung memerintahkan beliau untuk membuka mulutnya. Lalu Rasulullah meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau bersabda, “Sekarang, pergilah dan bicaralah di hadapan manusia. Berdakwalah dan ajak mereka ke jalan Allah, berikan mereka nasihat-nasihat yang baik.”

Begitulah kasih sayang Rasulullah terhadap Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sebagai keturunannya, Rasulullah terus menerus membimbingnya dalam berdakwah menyebarkan ilmu kepada seluruh manusia.

Setelah kejadian tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melaksanakan Shalat Dzuhur dan duduk sambil memikirkan bagaimana caranya untuk berdakwah di hadapan penduduk Kota Baghdad yang memiliki banyak ulama sangat alim. Mengingat dirinya bukanlah orang yang pandai berbicara. 

Selang beberapa saat, penduduk Kota Baghdad berbondong-bondong mendatangi Syekh Abdul Qadir al-Jailani di dalam masjid. Mereka meminta Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk memberikan pengajian kepada mereka. Sontak saja beliau bingung apa yang harus disampaikan kepada mereka, saat itu sekujur tubuhnya gemetar dan keder menghadapi penduduk Baghdad.

Disaat Syekh Abdul Qadir al-Jailani kebingungan, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang dan masuk ke dalam masjid sambil berdiri di hadapannya. Sayyidina Ali bertanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani seperti apa yang telah ditanyakan Rasulullah.
“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara dihadapan orang banyak?” 
“Wahai ayahku, aku tidak bisa, tubuhku dari tadi gemetar dan aku gerogi dihadapan sekian banyak orang ini,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab tanpa rasa malu.

Tak ingin menunggu lama, Sayyidina Ali memerintahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk kembali membuka mulutnya sebagaimana perintah Rasulullah sebelumnya. Lalu Sayyidina Ali meludahi mulutnya sebanyak enam kali. Hal itu membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani heran. 
“Mengapa engkau (Sayyidina Ali) hanya meludahi mulutku enam kali, sedangkan Rasulullah tujuh kali?” tanya al-Jailani. 
“Ini merupakan adab kepada Rasulullah dengan tidak melebihi darinya,” jelas Sayyidina Ali.

Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Ali bersembunyi dan mengintip apakah Syekh Abdul Qadir al-Jailani masih takut dan gemetar berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad ataukah tidak. Mungkin berkah dari ludah Rasulullah dan Sayyidina Ali, akhirnya beliau mulai berbicara dan berdakwah di hadapan mereka tanpa ada lagi rasa gemetar dan takut dalam dirinya.

Jika kita memahami alur kisah inspiratif di atas, ada hal yang sangat menarik yang perlu kita contoh yaitu mengapa Sayyidina Ali hanya meludahi mulutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani enam kali. Di sinilah kita perlu melihat betapa adabnya Sayyidina Ali begitu mulia, hingga ‘masalah sepele’ saja ia tidak mau melebihi apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

Itulah mengapa begitu sangat pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan adab lah derajat seseorang akan diangkat oleh Allah. Terbukti seperti adab Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Allah angkat derajatnya dan menjadikannya ‘Raja dari Seluruh Para Wali’. 

Lantas bagaimana dengan ilmu, bukankah itu juga merupakan elemen penting dalam kehidupan sehari-hari? Ilmu juga merupakan unsur yang sangat penting, namun itu setelah adab. Dahulukanlah adab dari pada ilmu. Setinggi apapun ilmu seseorang, tetapi jika ia menjadikan akhlah sebagai elemen yang kedua setelah ilmu, maka sungguh tidak berharga ilmu tersebut.
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo.

sumber : NU Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *